January 29, 2015

Security Update: glibc

Pat acted fast on fixing and updating glibc that is vulnerable to GHOST bug (known as CVE-2015-0235). He updated all glibc in supported Slackware releases: 13.0 up to 14.1. Slackware-current is not affected since it already uses glibc-2.20 which is not vulnerable, but he took this chance to update the timezone to the latest information (tzcode2014j and tzdata2014) and rebuilt all glibc packages.


He also update mozilla-firefox to the latest version 35.0.1 and also patch to 2.7.2

January 28, 2015

KDE 5 (Plasma 5.2.0 and Framework 5.6.0) For Slackware Users

Eric Hameleers again has worked hard to build, test, and package latest KDE releases, which includes Plasma 5.2.0, Framework 5.6.0, and Applications 14.12.1 for Slackware (current) users. This is another milestones for KDE team as more and more applications are ported to use the new Qt 5 and QML technology that enables them to push new features and overcome many limitations from previous releases.

There's one warning about this release: it will replace your KDE installation if you happened to like or enjoy KDE 4.10.5 available in default Slackware installation or if you follow previous release of KDE 4.14.3 from Eric as well. Make up your mind before proceeding and take precaution steps before.

If you are ready to plunge to the new experience, please take some time to read the README written by Eric to make sure your upgrade experience will not be disrupted and ended with a broken system. The changes in this release is quite huge compared to the previous KDE 5 releases from few months ago.

Please grab the latest KDE packages from this mirror sites below:

January 21, 2015

Security Update: samba

New security advisory has been released for Slackware 14.1 and current only, affecting samba that is being used as AD DC (Active Directory Domain Controller). Samba has been updated to 4.1.16 to fix this problem.

Current is progressing slowly with only 3 new packages introduced in this batch:
  • gdb upgraded to 7.8.2
  • alpine upgraded to 2.20
  • imapd upgraded to 2.20

January 17, 2015

Multiple Security Advisories Released

There are 4 security advisories released for slackware today and they are:
  • seamonkey: Upgraded to 2.32 for Slackware 14.0 and newer
  • freetype: Upgraded to 2.55 for Slackware 13.0 and newer
  • mozilla-firefox: Upgraded to 31.4.0esr for Slackware 14.1 and 35 for -current
  • mozilla-thunderbird: Upgraded to 31.4.0 for Slackware 14.1 and current
In -current itself there has been a slow pace of changes:
  • gcc is upgraded to 4.8.4
  • libtool is upgraded to 2.4.4
  • kernel stock is upgraded to 3.14.29

January 11, 2015

Cara Install Google Chrome di Slackware

Berdasarkan Google, browser chrome adalah browser yang dibuat untuk tujuan agar cepat, namun juga sederhana dan aman.

Google Chrome secara tidak merupakan aplikasi default pada Linux Slackware, namun Slackware memberi script untuk mempermudah instalasi Google Chrome melalui Slackbuild. Script ini dibuat oleh Patrick Volkerding dan tersedia difolder yang bernama "extra" yang terletak didalam pohon direktori Slackware.

Di dalam folder extra tersebut, terdapat folder google-chrome dimana didalamnya terdapat file README yang berisi bagaimana cara install google chrome menggunakan script google-chrome.SlackBuild.

Berikut ini adalah tutorial untuk install google chrome menggunakan script Slackbuild pada Slackware dimana menggunakan google chrome versi 39 dan menggunakan Slackware 14.1:
  1. Buka https://www.google.com/chrome/browser/desktop/index.html
  2. Klik Download dan pilih:
    • 32 bit .deb (for Debian/Ubuntu).
    • atau 64 bit .deb (for Debian/Ubuntu).
  3. Pilih paket sesuai artitektur yang digunakan:
    • 32 bit .deb (for Debian/Ubuntu) untuk Slackware 32-bit.
    • 64 bit .deb (for Debian/Ubuntu) untuk Slackware 64-bit.
  4. Download paket .deb yang telah dipilih.
  5. Jika memiliki CD/DVD installer Slackware, copy folder extra/google-chrome dan pindahkan ke folder temporari (/tmp/google-chrome atau /opt/google-chrome). Jika online, untuk Indonesia bisa download melalui http://kambing.ui.ac.id/slackware/slackware-14.1/extra/google-chrome/
  6. Pindahkan atau copy paket .deb google chrome (google-chrome-stable_current_i386.deb) ke folder yang sama, misal /opt/google-chrome/
  7. Di dalam terminal, login sebagai root:
    su -
  8. Pindah ke folder temporari:
    cd /opt/google-chrome
  9. Jalankan script google-chrome.SlackBuild sebagai root:
    sh google-chrome.SlackBuild
  10. Ketika selesai, akan muncul tulisan seperti berikut:
    Slackware package /tmp/google-chrome-39.0.2171.95-i386-1.txz created.
  11. 12. Install paket tersebut sebagai root:
    upgradepkg --install-new /tmp/google-chrome-39.0.2171.95-i386-1.txz
  12. 13. Selesai. Google Chrome dapat diakses melalui menu applications > internet atau melalui menu search aplikasi.

Upgrade Slackware via Internet & Slackpkg

Selain melalui CD / DVD, update Linux Slackware dapat menggunakan Slackware Package Manager bernama Slackpkg dengan memanfaatkan koneksi Internet untuk mendapatkan paket atau software terbaru untuk di upgrade. Pada artikel ini menggunakan Linux Slackware 14.0 untuk upgrade ke Linux Slackware 14.1 dimana referensi utamanya adalah artikel dari UPGRADE.txt yang merupakan dokumentasi resmi dan alphadi.wordpress.com.

Langkah - Langkah Upgrade Slackware Dengan Slackpkg

1. Ubah mirror Slackware
Ubah untuk /etc/slackpkg/mirrors dan tambahkan baris http://kambing.ui.ac.id/slackware/slackware-14.1/ atau pilih repositori lain dengan lokasi terdekat dengan kota tempat upgrade Slackware berada.

2. Upgrade Linux Slackware
login sebagai root dan jalankan perintah - perintah dibawah ini
slackpkg update
slackpkg install-new
slackpkg upgrade-all
Perintah slackpkg update akan melakukan update repo, slackpkg install-new akan melakukan instalasi paket yang baru dan yang terakhir slackpkg upgrade-all akan melakukan upgrade semua paket yang telah di-install. Setelah upgrade selesai, pilih yes saat Slackware menawarkan untuk menjalankan Lilo. Setelah semua perintah diatas selesai dijalankan, maka lakukan reboot komputer.

3. Clean Linux Slackware
Dikarenakan aplikasi slackpkg itu sendiri juga di upgrade, langkah selanjutnya adalah ubah kembali /etc/slackpkg/mirrors, pilih repositori terdekat. Setelah itu jalankan perintah dibawah ini untuk membersihkan dari paket - paket yang tidak digunakan.
slackpkg clean-system

4. Cek Versi Slackware
Setelah upgrade selesai, untuk mengecek versi Slackware yang sedang digunakan, dapat menggunakan perintah berikut:
cat /etc/slackware-version

Akhir kata, untuk melakukan upgrade dengan slackpkg via internet ini yang perlu dipastikan adalah koneksi internet yang tidak terputus karena saat melakukan upgrade sepenuhnya membutuhkan koneksi internet. Total waktu yang dibutuhkan sekitar 4 jam tergantung koneksi internet.

Update
Apabila saat booting setelah upgrade terdapat info seperti dibawah ini:
/usr/sbin/alsactl: set_control:1267: failed to obtain info for control #27 (No such file or directory)
/usr/sbin/alsactl: set_control:1267: failed to obtain info for control #28 (No such file or directory)
/usr/sbin/alsactl: set_control:1267: failed to obtain info for control #29 (No such file or directory)
/usr/sbin/alsactl: set_control:1267: failed to obtain info for control #30 (No such file or directory)
/usr/sbin/alsactl: set_control:1267: failed to obtain info for control #31 (No such file or directory)
/usr/sbin/alsactl: set_control:1267: failed to obtain info for control #32 (No such file or directory)
Hal itu biasanya disebabkan file /var/lib/alsa/asound.state bermasalah setelah upgrade kernel. Solusinya adalah hapus file tersebut dan buat baru.
rm /var/lib/alsa/asound.state
alsactl store

January 10, 2015

Menimbang kontroversi buku sekolah vs tablet

Jujur tadinya pengen nulis pake bahasa Indonesia yang baik dan benar buat artikel ini, sudah panjang lebar akhirnya di hapus dan ketik ulang. Jujur lagi, keknya kok janggal, serasa membohongi diri sendiri, this is me, Ini loh gaya saya (shame on me yang ga bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sorry for that lah, mo gimana lagi kekeke). Yang penting esensinya, iya toh?

Brainwashing? Ngga lah, Ane cuman mencoba mendudukkan issue ini dari sudut pandang ane, dengan argumen yang ane punya tentu, klo ente ga sependapat monggo silahkan berkomentar, but no flamming please, ga usah takut, tidak ada kok dalam sejarah blog ini ada komentar yang di hapus, satu kali pun, selama anda menjaga nettique dan ga spamming ga ada alasan juga buat ane. Bisa di cek dari komentar2 di blog ini.

Banyak yang nyinyir dengan rencana Anies Baswedan mengganti buku pelajaran konvensional menjadi lebih pake tablet. Whadda heck, anggarannya dari mana, proyek lagi dong ujung2nya? Bahkan sempat liat di medsos ada yang berpikiran buruk pasti ini akal2annya Jokowi CS buat balikin modal kampanye. Come on, wake up men. He is your president now. Ane juga bukan penggemar Jokowi kok. Tapi bukan berarti ane harus terus bermimpi. Walaupun ane juga bukan penggemar Prabowo atau sapa aja yang jadi kandidat presiden saat kemaren. Ane juga bukan fans berat Anies Baswedan walaupun ane salut dengan apa yang telah beliau lakukan jauh sebelum namanya bapak ini ramai di perbincangkan sejak pemilu kemaren. Seriously, ga ada tendensi apa2, ga ada yg keluar duit apa2 buat saya. Sekedar ngungkapin apa yang ada di benak saya terkait kontroversi ini. Thats it.

Ide soal tablet ini ane udah kepikiran dari jauh hari, pada saat tablet speknya masih abal2 dengan OS Android Froyo, malah dari sejak ada program OLPC (One laptop per Child) yang didanai oleh LSM2 seluruh dunia waktu itu. Pernah ngobrol ke instansi terkait kasih wacana, cuman emang ga ada manfaat juga seh, kita blom secanggih itu waktu itu. Atau pejabat2 kita yg gaptek, entahlah.

Ngapain pake tablet? Ntar anak2 bukannya belajar malah maen games atau buka yang ngga2.

Segitu piciknya pikiran kita klo berpikir klo fungsi tablet cuman buat maen game. Atau jangan2 selama ini itu yang ente lakukan sehingga mindset yang ente punya berkonotasi klo TABLET = GAMES? Tinggal bikin tabletnya ga bisa internetan, di bikin ga bisa install selain epub atau pdf beres kan? Mo lebih ekstrim bikin cuman item putih. Beres kan? Ane sendiri sudah melihat tablet sebagai kebutuhan, baik buat pendukung pekerjaan ataupun buat baca ebook, artikel atawa browsing2 blog orang, walaupun ada game paling cuman di buka pas mentok sinyal ga ada, ebook atau artikel internet yang udah ane simpen offline sebelumnya dah bosen diliat, atawa (maaf) lagi di wc yang beneran sumpe udah kaga ada sinyal sama sekali dan alasan diatas.

Loh, steve jobs atawa petinggi IT aja ogah anaknya nyenggol tablet.

Balik lagi, come on. Baca/liat baik2 alasan beliau2. Klo gadget tersebut emang cuman punya fungsi buat pelajaran, yakin mereka bakal menolak? Yang mereka ogah itu kan kasih anak2nya tablet, ipad atawa gadget biar ga disalahgunakan. Lah wong tabletnya ga ada isi apa2 kek ane bilang tadi yakin mereka akan berpikiran sama kek skr? Yakin di sekolah anaknya ga pake teknologi tablet atawa apa? Jangan men-genalisir masalah dong kang. Walaupun sama2 bahas soal tablet, esensi pembicaraannya beda jauh. Yang satu teknologi buat pembelajaran, yang satu teknologi buat di tenteng terserah buat ngapain.

Gimana dengan efek radiasinya?

Sekali lagi kita bukan hidup di jaman batu. Tablet bukan hanya ipad atawa android tablet yg biasa anda beli di toko komputer. Bagi orang2 yang emang ebook freak, mereka pasti akan beli kindle yang punya teknologi e-ink buat baca ebook, bukan sekedar gaya2an tapi memang teknologinya didisain biar ga merusak mata. Ane seh ga sampe gitu juga, masing sayang duitnya. Makanya masih pilih tablet yang umum yang bisa multifungsi, at least mentok2nya masih bisa ngegame atawa liat youtube kekeke. Yes, ada teknologi e-ink yang emang didisain buat ga ngerusak mata. Yang skeptis bilang namanya layar tetap merusak mata, come on. Baca buku juga ngerusak mata kok. Waktu kecil ane sering dimarahin gara2 dikamar, lampu 5 watt, sambil tiduran baca buku wiro sableng atawa kho ping hoo, takut rusak matanya kata orang tua kekeke…

Listriknya aja susah gimana mo pake tablet?

Loh, kenapa kita yg pusing seh. Itu urusan pemerintah buat pusing. Kita gaji DPR buat berpikir, kita setor pajak biar ada yg ngurus ni negara, klo ga ada hasilnya buat apa, ga usah ada mereka aja klo gitu. Ane pernah ke perbatasan papua di daerah yang terpencil, disana ada LSM yang kasih 1 tower yang listriknya tenaga surya di share biarpun cuman dapet listrik 5 watt tiap rumah, setidaknya klo malem ga gelap gulita mereka punya kampung. Atau ke salah satu pulau di Sulawesi yang mereka swadaya beli panel surya yang klo siang ga ada listrik tapi malam setidaknya anak2nya bisa mengaji atau bercanda ria dengan rekan2nya. Ujungnya aceh yang bahkan babi hutan aja ga takut berkekiaran deket manusia? Bahkan di salah satu pelosok di pulau ibukota negara kita di pulau jawa yang masyarakatnya gotong royong bikin listrik pake tenaga air terjun dibelakang kampung, dan banyak contoh lain. Bisa aja kan pemerintah kasih 1 panel surya di tiap sekolah trus tu tablet di charge rame2. Atau gmn lah, pinter2an kita doang kok itu. Penekanan disini adalah dimana ada kemauan InshaAllah ada jalan. Klo dari awal kita udah ga mau berubah, sampe kapan bakal berubah. Agama yang ane anut ngajarin gitu, dan ane yakin agama ente juga sama bukan?

Buang2 duit rakyat, mahal!!!

Soal mahalnya, catat, Anda diboongin tukang toko!!! Tau ga harga tablet yang biasa anda beli harga satu jutaan keatas itu harga produksinya ga sampe 100-200rebu? Yang anda beli adalah merk atawa spek bukan fungsi!!!! Kasih ane duit, kasih ane regulasi biar ga harus bayar pajak tu barang (kepentingan bersama loh ya), jangan bikin susah di bea cukai, di pengiriman blabla, cukup dengan 1000 piece bahkan kurang ane bisa bawa tu barang dengan harga yg ane sebut diatas!!!! Ini bukan karena ane mo proyekan ya, lebih sekedar pembuktian omongan ane. Ga minat juga kok bisnis ginian, not my competencies. Itung aja sendiri, emang duit yg keluar buat buku sekolah selama ini ga sampe segitu? Tanya sono ma temen2 dari kemendiknas.

Anggaran lagi, proyekan lagi?

Come on, habis makan apa seh. Emang tanpa ada rencana masuk tablet ini Indonesia bersih dari korupsi dari proyek, mimpi bos!!! Realistis aja Indonesia ga akan bebas dari korupsi, setidaknya sampe 5-10 taon kedepan. Yang bisa kita lakukan adalah menekan tingkat korupsi, bukan memberangus habis. Indonesia gitu loh. Azas pesimistis soal korupsi. Terlalu idealis rasanya klo saat ini juga, detik ini juga Indonesia ga ada korupsi. Selalu ada oknum dimana2 #curcol wkwkwkw

Jadi mending habis di korupsi kitanya ga dapet apa2 atau setidaknya anak2 kita bisa punya kesempatan lebih baik. Urusan penindakan korupsi kita punya monitoring, punya KPK, punya polisi, blablabla. Buat apa mereka kita gaji pake uang pajak kita. Suruh Jokowi CS beresin aparaturnya, buat apa mayoritas kita pilih beliau jadi presiden klo ga mau benahin?

Duitnya kan sayang, kenapa ga dipake bangun atau benerin sekolah yang ada? Emang dengan kondisi sekarang sekolah bener? Banyak sekolah dibangun?

CMIIW, anggaran beli buku kurikulum 2013 aja 2 trilyun, itu di luar dana BOS. Blom klo dana BOS dikelola dengan bener. Bukannya sok tau, dikit2 dari pengalaman pernah ngajar SMA dan SMEA (SMU dan SMK sekarang red) ane ngeliat dana BOS ga seratus persen tepat sasaran kok. Banyak yang masih harus dirapikan. Ini linknya http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/1014, atau malah di media ini ditulis biayanya sampe 6 trilyun yang bahkan ini masih dianggap murah http://kupang.tribunnews.com/2014/09/10/biaya-kurikulum-2013-telan-rp-6-triliun

Untuk pembangunan sekolah itu udah ada bujetnya, pos anggarannya terpisah. Jadi jangan mimpi duit buat beli buku bakal dipake buat benerin sekolah. Bukan begitu cara kerja perputaran duit di pemerintah negara yang kita cintai ini.

Ga cukup bujet, ada CSR kok, perusahaan asal di ajak omong baek2 sapa seh yang ga mau?

Tapi bener loh, ga perlu budget baru, ga perlu dana baru. Klo perlu kita sama2 geruduk pak Anies klo dia sampe pake anggaran laen. Cukup alihkan duit anggaran beli buku yang trilyun-trilyunan itu tadi jadi beli tablet sesuai bayangan dan gambaran ane diatas. Ane rasa jauh lebih bermanfaat. Bukan buat ane, buat ente. Tapi buat generasi berikutnya.

January 09, 2015

Security Advisory: openssl

New advisory has been released and this update fixed many many security problems in openssl library. This update is backported to earlier Slackware release, back to Slackware 13.0, but in two different version. Slackware 13.0 up to 13.37 will receive 0.9.8zd, while Slackware 14.0 up to -current will get 1.0.1k.

Nothing interesting in -current besides a new fluxbox which is upgraded to the latest version which was released few days ago. I guess you will have to wait longer for the big surprise from Patrick :)

January 08, 2015

Installing QEMU from Source

QEMU is a generic and open source machine emulator and virtualizer.

When used as a machine emulator, QEMU can run OSes and programs made for one machine (e.g. an ARM board) on a different machine. By using dynamic translation, it achieves very good performance.

In this article we will discuss about installing QEMU and use following requirement:

  1. Slackware64 14.0, although any version is OK
  2. latest qemu source code

There are two options for us: building the stable release or building the development code.

Note: as per version 1.3 QEMU-KVM is merged to upstream QEMU project therefore the QEMU-KVM is no longer maintained.

Obtain the Source Code

Between the stable release source code and development code, which one is suitable for us?If you want to download the latest stable release, you can obtain it from qemu official site here.

At the time of writing this article, the latest stable version is 2.2.0 (per January 8th 2015). You can download it by direct link here. http://wiki.qemu-project.org/download/qemu-2.2.0.tar.bz2

Once you have done downloading, uncompress it with:

tar -jxvf qemu-2.2.0.tar.bz2

If you want to download the development code. You can clone the git repository by:

git clone git://git.qemu-project.org/qemu.git

For any option we choose, we should have qemu source code now.

Installation

Next thing to do is doing configuration and make the binary code. The default installation path would be on /usr/local and we won’t change this thus we will do default procedures. Now invoke following command:

./configure
make
make install

It may take a while. Once you have compile it, you will have qemu installed on standard location on /usr/local. Verify whether qemu has already installed:

qemu-arm -version

You should see some text like this:

qemu-arm version 2.2.0, Copyright (c) 2003-2008 Fabrice Bellard

Congratulation! You have installed qemu.

December 28, 2014

AMD Catalyst Omega 14.501.1003 (14.12) for kernel 3.18.x

Finally, I had time to upgrade my laptop to the latest of slackware64-current, kernel 3.18.1, and AMD Catalyst Omega 14.501.1003 or 14.12. When upgrading to the newest AMD Catalyst Omega, I have got error message after compiling fglrx module. As usual, I checked my favorite reference, that is, Arch User Repository (AUR) for the patch. I modified the patch so that only one patch file is needed. You can download the patch from my Google Drive. You can follow the guidelines below to patch the fglrx module:
  • change directory to the path where the installer is
  • run the installer as root (superuser):
    # ./amd-driver-installer-14.501.1003-x86.x86_64.run
  • follow the instructions, at the end of installation process you will get notice that there are some errors.
  • exit the installer
  • at console, copy the patch file (fglrx-14.12_kernel-3.18.x.patch) to /lib/modules/fglrx/build_mod/
  • change directory to /lib/modules/fglrx/build_mod/
  • patch the fglrx source:
    # patch -p0 < fglrx-14.12_kernel-3.18.x.patch
  • compile the fglrx modules:
    # ./make.sh
    # cd ..
    # ./make_install.sh
  • reboot.
Enjoy your AMD Catalyst-14.501.1003 or 14.12 running on linux kernel 3.18.x.

December 23, 2014

Security Advisories: ntp, xorg-server, and php

Three security advisories were released for -stable and -current branches of Slackware. They were:
  • ntp: Upgraded to 4.2.8 for all -stable and -current branches. This fixed several security vulnerabilities discovered by Neel Mehta and Stephen Roettger of the Google Security Team.
  • xorg-server: Rebuilt for Slackware 14.1 and -current to fix many security issues discovered by Ilja van Sprundel, a security researcher with IOActive.
  • php: Upgraded to 5.4.36 for Slackware 14.0, 14.1, and -current
Meanwhile, in -current, there are more packages included in this batch, including:
  • New LTS kernel release: 3.14.27
  • vim and vim-gvim are upgraded to 7.4.560
  • libusb upgraded to 1.0.19 (this allows USB passthrough for QEMU users)
  • libusb-compat upgraded to 0.1.5
  • libdrm upgraded to 2.4.58
  • libvdpau: Added (originally available via SlackBuilds)
  • mesa: Upgraded to 10.3.5
  • MPlayer: Rebuilt to add support for libvdpau
  • kernel 3.18.1 config files for kernel testers or developers

December 22, 2014

LibreOffice 4.3.5 for Slackware Users

Eric Hameleers has completed building LibreOffice 4.3.5 package for Slackware-Current (and 14.1) users and upload it on his repository which is mirrored through several mirror sites. This version fixes 70 bugs compared to the previous version.

As always, you can grab the source and binary packages on this mirror sites:
 A little note on this:
Reminder to all of you who also have my KDE 5 packages installed: do not use the updated harfbuzz from my ‘ktown‘ repository because it will break LibreOffice. If you are using Mario’s slackpkg+ extension to slackpkg then you can configure it so that Slackware’s own harfbuzz package is preferred over the version which accompanies my KDE 5 packages. See this LQ thread for the details.
You can also use LibreOffice from SBo repository along with it's helppack and langpack which uses a different ways of creating the binary output. It uses RPM binaries from upstream developers, while Eric build it from source.

December 11, 2014

Multiple Security Advisories

Several security advisories has been released for all -stable and -current branches back to Slackware 13.0:
  • bind is upgraded to 9.9.6_P1 for -stable and bind-9.10.1_P1 for -current 
  • openvpn is upgraded to 2.3.6 for all branches
  • pidgin is upgraded to 2.10.11 (this package does not have any security advisory, but still included in all branch.
Some packages are only applicable to -stable 14.1 and -current branch:
  • firefox is upgraded to 31.3.0esr in 14.1 (current is already upgraded to 34.0.5 few days ago)
  • openssh is rebuilt to re-add tcpwrapper support that was removed by upstream
  • wpa_supplicant is upgraded to 0.7.3 in 13.37, 1.0 in 14.0, 2.3 in 14.1 and -current
  • seamonkey and seamonkey-solibs are upgraded to 2.31 in 14.1 and -current
  • gptfdisk is upgraded to 0.8.10 in -current only

    December 04, 2014

    Setup Slackware as Basic TFTP Server

    TFTP or Trivial File Transfer Protocol is a transfer protocol notable for its simplicity. TFTP is generally used for automated transfer of configuration or boot files between machines in a local environment, such as routers and PXE (Preboot eXecution Environment) mechanism. Compared to FTP, TFTP is extremely limited, providing no authentication and is rarely used interactively by a user.

    There are many TFTP implementations, such as:

    • GNU inetutils
    • tftp-hpa
    • atftp
    • tftp-server
    • etc…

    In this article, we will discuss about how to set Slackware as a basic  TFTP server. In specific, we will use tftp-hpa which is included by default. This article is tested using Slackware64 14.0 and tftp-hpa.

    Upgrade or Not?

    Slackware has shipped a TFTP server by default which is tftp-hpa. The version is 0.49. However we can install the latest tftp-hpa with simple process. If you decided to install the latest version, follow this section. Otherwise you can skip to next section.

    Download the latest version of tftp-hpa here: www.kernel.org/pub/software/network/tftp/tftp-hpa/. The latest version is 5.2 which can be downloaded here: www.kernel.org/pub/software/network/tftp/tftp-hpa/tftp-hpa-5.2.tar.xz

    Now invoke following series of command to build TFTP (server and client):

    tar -Jxf tftp-hpa-5.2.tar.xz
    cd tftp-hpa-5.2
    ./configure --prefix=/usr
    make
    cd tftp && strip --strip-unneeded tftp
    cd ../tftpd && strip --strip-unneeded tftpd
    cd ..

    Now install it (make sure you are using root privileges):

    make install

    Set up

    By default, the inetd use /tftpboot directory as root directory of the TFTP server. We can however change the directory to something else. Make sure the directory exists, whichever directory you use.

    Suppose we want to use /usr/local/tftpboot as root directory:

    mkdir -p /usr/local/tftpboot

    Then we give a proper permission:

    chmod +777 /usr/local/tftpboot
    chown nobody /usr/local/tftpboot

    Next we add the following entry to the /etc/inetd.conf file as a single line. Or you can edit it and make sure it’s uncommented.

    tftp  dgram   udp     wait    root    /usr/sbin/in.tftpd  in.tftpd -s /usr/local/tftpboot -r blksize

    Then, restart the inetd using root privileges.

    /etc/rc.d/rc.inetd restart

    Testing

    Now, let’s testing our TFTP server. In our simple scenario, we will create a plain text and fill something there. Then we will download it via tftp.

    echo "Xathrya was testing the TFTP server" >> /usr/local/tftpboot/test.txt

    To download it, use:

    tftp 127.0.0.1 -c get test.txt

    And see in current directory, whether we have successfully download it:

    cat test.txt

    It should print out “Xathrya was testing the TFTP server”.

    December 03, 2014

    Two Security Updates: Firefox and Thunderbird

    There were two security updates released in December. One for Firefox, which is now upgraded to 34.0.5 (a strange version indeed) and Thunderbird which is now upgraded to 31.3.0. Thunderbird update is applied to 14.1 as well, but not for Firefox as 14.1 still use Firefox ESR 31.2.0 and there has been no update for this release.

    Meanwhile, two more packages in -current gets an upgrade: groff and grep. Still no interesting activity happening in -current, but let's hope it's worth to wait for the big update. It happened very often in previous releases, but indeed this time, it's taking more time then before. Please be patient and let Pat do his job.

    Planet Slackware-ID

    Planet Slackware-ID adalah aggregator dari situs blog para Slacker* Indonesia.
    (*Pengguna Distro Slackware)

    Silakan kirimkan e-mail ke willysr@slackware-id.org apabila blog Anda ingin disertakan pada planet ini.

    Terakhir diupdate: January 30, 2015 09:01 AM GMT.

    Google Groups
    Subscribe to id-slackware
    Email:
    Visit this group

    Subscribe